UU Guru dan Dosen Lewatkan Elemen Kompetensi

UU Guru dan Dosen Lewatkan Elemen Kompetensi

UU Guru dan Dosen Lewatkan Elemen Kompetensi

UU Guru dan Dosen Lewatkan Elemen Kompetensi

Guru Besar bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta

(UNY), Rochmat Wahab, mengatakan, UU Guru dan Dosen sepintas terkesan hanya untuk bias guru saja. Padahal secara historis, pasal-pasalnya membicarakan tetang dosen dan menyusul guru.

Menurut Rochmat, ada pasal yang terlewat tentang kompetensi yang belum muncul pada pasal yang berkaitan dengan dosen. Pasal-pasal yang ada lebih fokus pada Tri Dharma penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta berkenaan dengan pembinaan mahasiswa dan keterlibatan pada organisasi profesi.

Sementara terkait dengan guru honorer, Rochmat mengatakan, harus ada keberpihakan kepada mereka

. Sepanjang memenuhi persyaratan kualifikasi dan kompetensi, para guru honorer perlu mendapatkan honor sesuai dengan beban kerja. Menurutnya, gaji yang pantas adalah minimal 50% dari gaji pegawai negeri sipil (PNS) ditambah dengan tunjangan profesi. Pasalnya, guru honorer berperan penting untuk pendidikan Indonesia.

Selain nasib guru honorer di sekolah negeri, mantan rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

ini juga mengusulkan adanya keberpihakan kepada guru sekolah swasta. Ia mengusulkan, minimal mereka mendapatkan gaji sebesar 25% dari gaji PNS dan tunjangan profesi. Dengan catatan, gaji dari yayasan dapat disesuaikan dengan gaji PNS sehingga terjadi situasi yang kondusif. Selain itu, perlakuan sama juga diharapkan diterima oleh dosen honorer.

 

Baca Juga :