Pengertian Makkiyah dan Madaniyyah

Pengertian Makkiyah dan Madaniyyah

Pengertian Makkiyah dan Madaniyyah

Makkiyah diambil dari nama kota makkah

tempat islam lahir dan tumbuh. Kata makkiyah merupakan kata sifat yang disandarkan kepada kota tersebut. Dan sesuatu yang disebut makkiyah apabila ia mengandung kriteria yang berasal dari mekah atau yang berkenaan dengannya. Begitu pula dengan madaniyah, ia diambil  dari nama kota madinah, tempat rasululloh berhijrah dan membangun masyarakat islam serta mengembangkan islam ke segala penjuru dunia.

Sekalipun kemudian dakwah Rasululloh melewati batas-batas wilayah kedua kota tersebut, namun mekaha dan madinah tetap mempunyai peran yang siginifikan dalam setiap proses pengembangan islam. Karenanya pengertian makkiah dan madaniyah tidak hanya terbata pada ruang linngkup tempat atau penduduk yang berdiam di kedua kota tersebut, melainkan mencakup di dalamnya priode waktu. Dari sini kemudian para ulama dalam mendefenisikan makkiyah dan madaniyah tidak hanya terpaku pada pengertian yang sangat sempit, mmelainkan juga memasukkan unsur waktu yang yak terspisahkandari sejarah Rasululloh.

Imam az-zarkasyi dalam bukunya al-burhan fi ulum al-qur’an telah menyebutkan tiga persepektif  defenisi mengenai makkiyah dan madaniyah. Pertama dari persepektif masa turun didefenisikan bahwa makkiyah ialah ayat-ayat yang turun sebelum Rasululloh hijrah ke madinah, walaupun bukan turun di Mekah, sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun sesudah Rasululoh hijrah ke madinah sekalipun bukan turun di madinah. Ayat-ayat yang turun setelah peristiwa hijrah disebut Madaniyyah walaupun turun di Mekah atau arafah.

Kemudian dari persepektif tempat turun, didefenisikan bahwa Makkiyah adalah ayat-ayat yang turun di mekah dan sekitarnya seperti mina, arafah dan hudaibiyyah, sedangkan madaniyah adalah ayat-ayat yang turun di madinah dan sekitarnya, seperti uhud, quba, dan sul’a, akan tetapi  terdapat celah kelemahan dari defenisi tersebut karena terdapat ayat-ayat tertentu, yang tidak diturunkan di mekah dan di madinah dan di sekitarnya. Misalnya surat at-Taubah : 42 diturunkan di tabuk, surat az-zukhruf : 45 di turunkan di tengah perjalanan antara madinah dan mekah. Kedua ayat tersebut, jika melihat defenisi kedua ini, tidak dapat dikategorikan ke dalam makkiyah dan madaniyah.

Dari persepektif objek pembicaraan (wahyu), mendenfisikan makkiyah dan madaniyah bahwa makkiyah adalah ayat-ayat yang menjadi khitab bagi orang-orang mekah, sedangkan madaniyah adalah ayat-ayat yang menjadi khitab bagi orang-orang madinah. Pendefinisian tersebut dirumuskan berdasarkan asumsi bahwa kebanyakan ayat a-qur’an dimulai dengan ungkapan”ya ayyuhal ladziina” yang menjadi kriteria Madaniyyah. Namun tidak selamanya asumsi ini benar. Surat al-baqarah, misalnya, termasuk kategori madaniyah, padahal di dalamnya terdapat salah satu ayat, yaitu ayat 21 dan 168 yang dimulai dengan ungkapan “ya ayyyuhan nas “. Lagi pula, banyak ayat al-qur’an yang tidak dimulai dengan dua ungkapan yang di atas.


Sumber: https://blog.fe-saburai.ac.id/seva-mobil-bekas/