Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan Masyarakat

1. Pengertian

Istilah atau terminologi pemberdayaan masyarakat (community empowerment) sering sulit dibedakan dengan penguatan masyarakat dan pembangunan masyarakat (community development). Maka dalam prakteknya biasa istilah-istilah itu saling tumpang tindih, saling menggantikan dan mengacu pada suatu pengertian yang tak berbeda. Menurut Supriyanto dan Subejo (2004) mengutip dari Cook (1994) bahwa pembangunan masyarakat adalah konsep yang berkaitan dengan upaya peningkatan atau pengembangan masyarakat menuju ke arah yang positif. Selanjutnya Giarci (2001) menyatakah bahwa community development sebagai suatu hal yang memiliki pusat perhatian dalam membantu masyarakat pada berbagai tingkatan umur untuk tumbuh dan berkembang melalui berbagai fasilitasi dan dukungan agar mereka mampu memutuskan, merencanakan, dan mengambil tindakan untuk mengelola dan mengembangkan lingkungan fisiknya serta kesejahteraan sosialnya. Bartle (2003) mendefinisikan community development sebagai alat untuk menjadikan masyarakat semakin komplek dan kuat. Merupakan perubahan sosial dimana masyarakat menjadi lebih komplek, institusi lokal tumbuh, collective power-nya meningkat serta terjadi perubahan secara kualitatif pada organisasinya. Dalam tulisan lain secara sederhana Subejo dan Supriyanto (2004) memaknai pemberdayaan masyarakat sebagai ”upaya yang disengaja untuk memfasilitasi masayarakat lokal dalam merencanakan, memutuskan dan mengelola sumber daya lokal yang dimiliki melalui collective action dan networking sehingga pada akhirnya mereka memiliki kemampuan dan kemandirian secara ekonomi, ekologi dan sosial”. Dengan pemberdayaan masyarakat sekaligus menghapus paradigma kebijakan top down dan menggantinya kebijakan berbasis masyarakat yang menuju kepada kemandirian masyarakat, serta merupakan kegiatan yang berkesinambungan.

2. Keterkaitan dengan sustainable development

Pemberdayaan masyarakat dalam pengertian yang lebih luas adalah proses untuk memfasilitasi dan mendorong masyarakat agar mampu menempatkan diri secara proporsional dan menjadi pelaku utama dalam memanfaatkan lingkungan strategisnya untuk mencapai suatu keberlanjutan dalam jangka panjang. Ini merupakan prinsip utama dalam konsep pembangunan berkelanjutan atau sustainable development. Dari lingkungan strategis yang dimiliki oleh masyarakat lokal, seperti lingkungan produksi, ekonomi, sosial dan ekologi. Maka dengan pemberdayaan, anggota masyarakat akan mampu untuk memanfaatkan sumberdaya yang dimilikinya secara optimal dan terlibat secara penuh dalam mekanisme produksi, ekonomi, sosial dan lingkungan hidupnya. Paling tidak ada empat kata kunci dalam pemberdayaan masyarakat, ialah:

  1. Peningkatan kemampuan masyarakat;
  2. Terciptanya kemandirian masyarakat;
  3. Meningkatnya taraf kehidupan masyarakat;
  4. Terpeliharanya kesinambungan (sustainability) kegiatan pembangunan.

3.  Tahapan Pemberdayaan Masyarakat

Faktor internal dan eksternal merupakan hal yang tak terpisahkan dalam proses pemberdayaan masyarakat. Kedua faktor itu saling mempengaruhi dan berkontribusi secara sinergis dan dinamis. Namun seringkali faktor internal menjadi lebih penting, utamanya dalam terwujudnya self-organizing dalam masyarakat. Tradisi masyarakat adalah satu faktor internal, yang oleh para ahli sebagai bentuk social ralationship, merupakan suatu networking spesifik dan termasuk modal masyarakat (social capital). Menurut Deliveri (2004) proses pemberdayaan masyarakat perlu didampingi oleh suatu tim fasilitator yang bersifat multidisiplin. Maka tim pendamping atau fasilitator adalah salah satu faktor eksternal yang utama. Dimana peran tim sangat aktif pada awalnya, tetapi akan berkurang secara bertahap selama proses pemberdayaan berjalan, sampai masyarakat mampu melanjutkan kegiatannya secara mandiri. Tahapan dalam proses pemberdayaan pada dasarnya mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

  1. Identifikasi dan pengkajian permasalahan serta potensi masyarakat dengan melibatkan sepe-
  2. nuhnya pada peranserta masyarakat;
  3. Mengembangkan rencana kegiatan kelompok berdasar hasil kajian;
  4. Implementasi rencana kegiatan kelompok;
  5. Pemantauan dan evaluasi.

Pada kedua kegiatan pertama (a dan b) biasa dipakai metode PRA (participatory rural appraisal) yang dikembangkan pertama kali oleh Robert Chambers. Semua itu mengarah pada perlunya ditingkatkan kemampuan masyarakat dengan berbagai penyuluhan dan pelatihan. Maka peranan tim fasilitator sebagai motivator adalah sangat penting, sehingga kemampuan atau keprofesionalan tim harus dapat diandalkan.

4.  Peran dan Keterampilan Fasilitator

Pemberdayaan masyarakat tak mungkin tercapai tanpa peran dan keterampilan para fasilitator. Dalam istilah asing fasilitator disebut juga sebagai pekerja masyarakat (community worker) atau pengorganisasi masyarakat (community organizer). Mereka sebagai penggerak, yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu dan ketrampilan, membantu masyarakat untuk dapat mengartikulasikan kebutuhan mereka, mengidentifikasi masalah serta meningkatkan kemampuan agar dapat menangani permasalahan yang dihadapi dengan efektif. Secara filosofis mereka berperan dalam ”help people to help themselves”. Mereka adalah enabler yang berperan sebagai pemercepat perubahan, memiliki enam fungsi utama :

  1. Membantu masyarakat menyadari dan melihat kondisi mereka;
  2. Membangkitkan dan mengembangkan organisasi/lembaga dalam masyarakat;
  3. Mengembangkan hubungan antar pribadi (interpersonal relation) yang baik;
  4. Memfasilitasi perencanaan yang baik dan efektif;
  5. Membantu pelaksanaan program/rencana kegiatan agar penggunaan sumber daya efektif dan
  6. efisien;
  7. Membantu memonitor dan mengevaluasi perkembangan pelaksanaan kegiatan.

Fasilitator pada hakekatnya adalah suatu profesi, yang berarti memiliki keahlian dalam pengembangan masyarakat, di samping kemungkinan memiliki keahlian teknis tertentu yang dibutuhkan di lingkungan masyarakat. Keterampilan teknis sederhana yang dibutuhkan masyarakat seperti berbagai inovasi pada teknologi tepat guna (TTG). Menurut Mayo (1994) secara umum keterampilan dasar yang harus dikuasai seorang community worker adalah:

  • keterampilan menjalin relasi (engagement skill);
  • keterampilan melakukan penilaian (assessment skill);
  • keterampilan melakukan riset/investigasi;
  • keterampilan membangkitkan dinamika kelompok;
  • keterampilan bernegosiasi;
  • keterampilan berkomunikasi;
  • keterampilan dalam berkonsultasi;
  • keterampilan manajemen (termasuk manajemen waktu dan dana);
  • keterampilan penulisan/pencatatan dan pembuatan laporan;
  • keterampilan melakuikan pantauan dan evaluasi.

Mengenai dimensi dan tingkatan pemberdayaan menurut UNDP (1998) paling tidak ada tiga tingkat atau level yang harus dicapai pada program pemberdayaan, yakni: pertama, pemberdayaan tingkat individu berupa pengembangan potensi dan keterampilan; kedua, pemberdayaan pada tangkat kelompok/organisasi, yang berhubungan dengan peningkatan partisipasi kelompok dalam pembangunan; dan ketiga, pemberdayaan pada tingkat sistem, yakni berwujud meningkatnya k

Sumber : https://synthesisters.com/journey-apk/