Menristekdikti : Mahasiswa Papua Masih Ingin Kuliah Hingga Selesai

Menristekdikti : Mahasiswa Papua Masih Ingin Kuliah Hingga Selesai

Beberapa hari terakhir ramai perkabaran soal ratusan mahasiswa asal Papua yang sedang menempuh edukasi di sekian banyak daerah di Indonesia menyimpulkan pulang ke Papua.

Kapolda Papua Irjen Rudolf A Rodja mengatakan sampai kini telah ada 700 mahasiswa asal Papua memilih kembali kampung.

Berdasar data kepolisian itu dari 700 mahasiswa kembali, yang terbanyak berasal dari Manado, Sulwesi Utara selama 300 orang.

Kapolda Papua menyayangkan tindakan semua mahasiswa tersebut. “Jangan hingga adik-adik anda ini menjadi korban dari kepentingan-kepentingan elit-elit atau kelompok-kelompok. Ini yang mesti anda cegah sebab anak-anak ini ialah aset-aset bangsa yang butuh kita simaklah masa depannya,” ujar Rudolf di Jayapura.

Ingin kuliah hingga selesai

Dikonfirmasi urusan itu, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Muhammad Nasir menyangkal terjadinya pemulangan mahasiswa Papua tersebut.

Ia menyatakan sudah mengecek kebenaran informasi itu, tergolong di Jawa Timur, ternyata tidak ditemukan adanya pemulangan mahasiswa Papua ke dusun asalnya.

“Enggak terdapat pemulangan, beritanya dari mana? Kami telisik di Jawa Timur, di Surabaya enggak ada, di Malang pun enggak ada. Saya baru kembali dari Malang tiga hari yang lalu,” ujar Menteri Nasir saat didatangi di Jakarta.

Dia menuturkan, bahkan sebanyak mahasiswa asal Papua yang ditemuinya di Surabaya menuliskan tidak hendak pulang dusun dan tetap bermukim di sana sebab masih inginkan terus melanjutkan kuliahnya.

Sama halnya dengan semua mahasiswa Papua yang didatangi di Malang. Mereka berencana pulang andai kuliahnya di kota tersebut telah selesai.

“Bahkan mahasiswa yang di Surabaya bilang ke saya tidak inginkan pulang, katanya inginkan cari ilmu. Kalau sudah berlalu baru inginkan pulang, bila belum enggak mau. Di Malang urusan yang sama,” imbuh Nasir.

Aman, mengapa pulang?

Gubernur Papua Lukas Enembe menyatakan kaget saat memahami ratusan mahasiswa Papua memilih kembali kampung. Padahal sebelumnya Panglima TNI dan Kapolri sudah memberikan garansi keamanan untuk mahasiswa dan pelajar asal Papua yang menempuh edukasi di luar Papua.

“Memang telah ada imbauan dari kami, saya arahkan masa-masa itu, bila di NKRI tidak aman, kami pulangkan. Tapi ini aman, mengapa pulang, guna apa?” tutur Lukas di Jayapura.

Gubernur Lukas menyayangkan sikap mahasiswa yang tidak berkoordinasi dengan pemerintah wilayah yang mengirim mereka berkuliah. Terlebih, ketika ini rekonsiliasi sedang dilaksanakan dan semua institusi bersangkutan sudah memberikan garansi keamanan untuk seluruh mahasiswa asal Papua.

Namun, Lukas meyakinkan pemerintah wilayah akan mau memfasilitasi semua mahasiswa itu bila mereka mau kembali berkuliah di lokasi sebelumnya.

“Jadi kini ini kami pusing inginkan taruh mereka ( kampus mana). Kami bakal panggil Gubernur, MRP dan DPR Papua Barat, Direktur Unima, Rektor Uncen, dan semua bupati/wali kota guna bicara kepulangan mahasiswa dalam jumlah besar tanpa pemberitahuan,” ujar Lukas.

Tidak dapat sembarang pindah

Rektor Universitas Cendrawasih (Uncen) Apolo Safanpo mengingatkan, tidak mudah mengalihkan ratusan mahasiswa ke kampus-kampus yang terdapat di Papua sebab ada sejumlah hal yang mesti dipenuhi.

“Di sini belum tentu pun mereka dapat diterima. Pertama sebab daya tampung perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang terdapat di Tanah Papua tersebut sangat terbatas. Hal ini dapat dibuktikan di Uncen pada 2019 terdapat 12.800 calon mahasiswa yang melamar dan mengekor tes dan seleksi, yang dapat kita tampung itu melulu 6.000 saja, meski daya tampung kami melulu 4.000,” tuturnya.

Alasan lain, cerah Apolo, jurusan atau program studi dari kampus asal mereka di luar Papua belum pasti sama atau terdapat di kampus-kampus yang terdapat di Papua.

Walaupun terdapat program studi yang sama, tapi guna pindah antar-universitas, mesti memenuhi sejumlah persyaratan teknis berhubungan akreditasi.

Selain tersebut tahun angkatannya mesti sesuai supaya bisa mendapat izin akses dari Pusdapim Kemenristekdikti untuk dapat mengambil data mereka ke dalam data Uncen.

“Yang terakhir, anak-anak anda yang berkuliah di perguruan tinggi swasta di luar Papua, tersebut sesuai dengan aturan perundang-undangan, tidak dapat masuk di perguruan tinggi negeri,” kata Apolo.

Sumber : http://www.thaitourtalk.com/go.php?https://www.pelajaran.co.id