Kemitraan Antarguru, Upaya Kemdikbud Tingkatkan Mutu Pendidikan

Kemitraan Antarguru, Upaya Kemdikbud Tingkatkan Mutu Pendidikan

Kemitraan Antarguru, Upaya Kemdikbud Tingkatkan Mutu Pendidikan

Kemitraan Antarguru, Upaya Kemdikbud Tingkatkan Mutu Pendidikan

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

(GTK Kemdikbud), Supriano mengatakan, salah satu upaya peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan adalah melaksanakan program kemitraan GTK. Artinya, guru dan kepala sekolah mitra dari daerah tertinggal, terluar, terdepan (3T) diundang ke sekolah inti untuk berkolaborasi dengan guru inti.

Supriano menyebutkan, para guru dan kepala sekolah dari sekolah mitra ini akan belajar selama sepekan dengan menyaksikan dan terlibat di setiap sekolah inti agar praktik baik itu dapat mereka sebarluaskan kepada guru-guru lain di wilayahnya. Secara teknis, program kemitraan adalah mewujudkan program penguatan pendidikan karakter (PPK), pembelajaran abad 21, dan gerakan literasi sekolah secara terpadu melalui peran guru di kelas dan peran kepala sekolah pada tingkat satuan pendidikan melalui penguatan komunitas belajar profesional GTK di wilayahnya masing-masing.

“Jadi ini seperti program sister school. Sekolah mitra ini belajar langsung praktik

baik dari sekolah inti lalu mereka kembali ke sekolahnya dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Misalnya, kepala sekolah dari sekolah mitra ini dapat belajar bagaimana manajemen sekolah yang baik di sekolah inti,” kata Supriano di Gedung Kemdikbud Jakarta, Kamis (8/8/2019).

Dijelaskan Supriano, program kemitraan tahun ini memiliki keunikan, yakni mengintegrasikan guru dan kepala sekolah dalam program yang sama sehingga ada kesinambungan substansi yang digarap oleh keduanya. Keterpaduan program ini meliputi desain dan langkah program, lokasi dan sasaran program, serta substansi program.

Melalui program kemitraan, guru inti dapat saling berbagi pengalaman, menginspirasi, dan mengembangkan kerja sama dalam upaya peningkatan dan pemerataan kemampuan guru mitra yang berasal dari daerah 3T. Dengan ini, mereka dapat menghidupkan komunitas belajar profesional dengan fokus penguatan kualitas layanan pembelajaran.

Program ini sejalan dengan program Kemdikbud tentang zonasi pendidikan,

yakni mendukung program peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan yang berbasis zonasi dengan pemberdayaan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) melalui komunitas belajar.

Supriano juga menyebutkan, sekolah-sekolah yang ditetapkan sebagai sekolah inti adalah sekolah yang telah menjalankan delapan standar pendidikan meliputi standar isi, standar kompetensi kelulusan, standar proses pendidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan pendidikan, standar penilaian pendidikan, dan standar pendidikan dan tenaga kependidikan.

Selain itu, pertimbangan lain adalah guru inti berasal sekolah yang secara nasional memiliki rerata capaian ujian nasional (UN) 2017/2018 tinggi. Sedangkan guru mitra berasal dari daerah yang secara nasional memiliki capaian UN rendah.

“Pertemuan guru inti dan guru mitra ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada para peserta tentang kemitraan guru dan tenaga kependidikan, menggiring peserta untuk berkolaborasi, dan saling berbagi pengalaman terbaik dalam peningkatan mutu pembelajaran di kelas,” jelas Supriano.

Sumber :

https://nisachoi.blog.uns.ac.id/sejarah-sultan-baabullah/