Inflasi September Mencapai 0,13 Persen

Inflasi September Mencapai 0,13 Persen

Inflasi September Mencapai 0,13 Persen

Inflasi September Mencapai 0,13 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan atau inflasi tipis sebesar 0,13 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada September 2017.

Sementara, secara tahun kalender (year-to-date/ytd) infasli tercatat sebesar 2,66 persen dan secara tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 3,72 persen.

Laju inflasi ini lebih rendah dibandingkan September 2016 sebesar 0,22 persen (mtm), namun lebih tinggi dibandingkan Agustus lalu, yang mengalami deflasi 0,07 persen (mtm).

Lihat juga:Target Inflasi Pemerintah 3%

Kepala BPS Suhariyanto atau yang akrab disapa Ketjuk menyebut, inflasi tertinggi disumbang oleh kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 1,03 persen dengan andil sebesar 0,08 persen.

“Yang memberi andil inflasi adalah uang kuliah sebesar 0,04 persen. Sementara untuk uang sekolah SD, SMP, dan SMA sebenarnya sudah tercermin di bulan lalu, tapi naik tipis 0,01 persen,” ujar Ketjuk di kantor BPS, Senin (2/10).

Lalu, inflasi terbesar terjadi pada kelompok sandang sebesar 0,52 persen

dengan andil 0,03 persen. Ini disebabkan oleh kenaikan harga emas di pasar global, dengan inflasi harganya mencapai 0,02 persen. Kemudian, inflasi kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,34 persen.

“Ada beberapa komoditas yang memberi sumbangan besar yaitu harga bubur, mie, nasi, lauk pauk, rokok kretek, rokok kretek filter. Itu kecil, tapi kalau digabung besar juga,” terang Ketjuk.

Sedangkan kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar inflasi sebesar 0,21 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,16 persen, dan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen.

Sementara, satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi ialah kelompok bahan makanan, yaitu sebesar minus 0,53 persen dengan andil sebesar minus 0,11 persen.

Lihat juga:Data Inflasi Bakal Kendalikan Gerak IHSG

“Beberapa komoditas yang menyumbang deflasi; bawang merah, bawang putih, telur ayam ras, tomat sayur, cabai, bayam, kangkung, semangka,” jelasnya.

Berdasarkan komponen penyumbang, tercatat komponen tingkat harga yang diatur pemerintah (administered price) mengalami inflasi 0,15 persen dan komponen inflasi inti (core) sebesar 0,35 persen. Sedangkan komponen gejolak harga pangan (volatile foods) deflasi 0,67 persen.

Berdasarkan wilayah, dari 82 kota IHK, inflasi terjadi 50 kota dengan inflasi tertinggi di Tual sebesar 1,59 persen dan inflasi terendah di Depok dan Mamuju 0,01 persen. Sementara 32 kota lainnya mengalami deflasi.

 

Sumber :

https://profiles.wordpress.org/ojelhtcmandiri/