Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia

Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia

Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia

Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia

Sebelum membahas pembelajaran apresiasi sastra

Ada baiknya memahami proses pembelajaran bahasa yang selalu dikaitkan dengan tahap pemerolehan bahasa seseorang siswa. Pemerolehan bahasa dimaknai sebagai periode seseorang memperoleh bahasa atau kosa kata baru dan berlangsung sepanjang hayat. Pemerolehan bahasa sangat ditentukan oleh interaksi rumit antara aspek-aspek kematangan biologis, kognitif, dan sosial.

Menurut Tarigan (dalam Iskandarwassid, 2008: 84), setiap pendekatan moderen terhadap pemerolehan bahasa akan menghadapi kenyataan bahwa bahasa dibangun sejak semula oleh anak. Memanfaatkan aneka kapasitas bawaan sejak lahir yang beraneka ragam interaksinya dengan pengalaman-pengalaman dunia fisik dan sosial.

Proses pemerolehan bahasa bukanlah sesuatu yang sederhana. Berbahasa adalah proses kognitif yang rumit, hal inilah yang selalu dialami oleh setiap manusia normal pada umumnya. Salah satu fase penting dalam bahasa yang adalah fase imitasi. Pada fase imitasi, anak-anak akan meniru orang-orang di sekitarnya untuk berbicara. Dalam fase inilah anak-anak mengasah keterampilan mereka dalam “bercerita”. Pengalaman anak dari bercerita maupun mendengarkan cerita (menyimak) dapat memperkaya ragam perbendaharaan kata dan pengetahuan ragam bahasa, baik yang berkaitan dengan ragam tulisan maupun ragam lisan.

 

Keterampilan “bercerita” ini, seperti menyampaikan informasi faktual

secara jelas merupakan keterampilan yang tidak diperoleh dengan sendirinya. Keterampilan ini menjadi bagian dari pembelajaran bahasa yang diperoleh dari guru. Bercerita sebagai salah satu keterampilan berbahasa menjadi sangat penting dalam pemerolehan bahasa karena melalui bercerita anak-anak dapat mengolah kembali semua bentuk pengalaman mereka dalam bahasa.

Melatih anak untuk bercerita berarti melatih mereka untuk berani berbicara di depan orang lain. Dengan bercerita, atau merangkai peristiwa dalam ujaran, anak-anak memperoleh kesempatan mengungkapkan hal yang sudah terjadi, menyampaikan apa yang sedang terjadi, dan meramalkan apa yang akan terjadi.

Dalam proses bercerita, siswa juga belajar menyesuaikan persepsinya dengan persepsi orang lain. Karena pada saat bersamaan anak-anak dilatih untuk menyimak cerita. Dalam proses belajar bahasa tidak sematamata mengasah keterampilan berbahasa itu sendiri, tetapi juga belajar bersosialisasi dengan lingkungan. Proses belajar bahasa pada para siswa di sekolah sangat dipengaruhi oleh pengalaman mereka sebelumnya, yaitu sebelum mereka menginjak bangku formal.

Pembelajaran bahasa pada hakikatnya adalah proses untuk mencapai empat kompetensi komunikatif. Menurut Oxford keempat

 

Kompetensi komunikatif tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Kompetensi gramatikal, yaitu penguasaan tanda-tanda bahasa, termasuk kosakata, tata bahasa, pelafalan, ejaan, dan pembentukan kata.
  2. Kompetensi sosiolinguistis, yaitu kemampuan menggunakan ujaran dalam konteks sosial yang bervariasi, termasuk di dalamnya adalah pengetahuan mengenai pertuturan seperti membujuk, meminta maaf, atau menjelaskan.
  3. Kompetensi wacana, yaitu kemampuan untuk menggabungkan gagasan-gagasan untuk mencapai kesatuan dan kepaduan pikiran dalam satuan bahasa di atas kalimat.
  4. Kompetensi strategis, yaitu kemampuan menggunakan strategi untuk mengatasi keterbatasan pengetahuan bahasa.

.

Oleh karena itu pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis. Kemampuan menggunakan bahasa dalam komunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Untuk mencapai tujuan itu diperlukan pendekatan dalam pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.

Pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua secara formal dimulai ketika anak memasuki pendidikan dasar (TK sampai SD). Anak-anak ketika memasuki usia 5 tahun telah menguasai pola bahasa. Mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah disebut dengan mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Karena pada prinsipnya, bahasa dan sastra merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam kebudayaan manusia. Sastra, suatu komunikasi seni yang hidup bersama bahasa. Di satu pihak sastra merupakan salah satu bentuk pengungkapan bahasa, di lain pihak bahasa akan lebih hidup berkat sentuhan estetis unsur-unsur sastra (Jamaluddin, 2003: 31).

 

Pelajaran bahasa dan sastra Indonesia mulai dikenalkan di tingkat sekolah sejak kelas 1 sekolah dasar

atau bahkan di taman kanak-kanak. Pada masa tersebut materinya hanya sebatas pada aktivitas membaca, menulis sambung serta membuat karangan singkat, baik berupa karangan bebas maupun mengarang dengan ilustrasi gambar. Sampai ke tingkat-tingkat selanjutnya pola yang digunakan juga praktis tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Pembelajaran bahasa Indonesia yang monoton telah membuat para siswa mulai merasakan gejala kejenuhan terhadap belajar bahasa Indonesia. Hal tersebut diperparah dengan adanya buku paket yang menjadi buku wajib. Sementara isi dari materinya terlalu luas dan juga cenderung bersifat hafalan yang membosankan. Inilah yang kemudian akan memupuk sifat menganggap remeh pelajaran bahasa Indonesia karena materi yang diajarkan hanya itu-itu saja.

Aspek-aspek penting yang menyangkut pengalaman dan keterampilan berbahasa dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah dasar selalu kurang diperhatikan, bahkan strategi dan metode pembelajarannya pun masih bersifat tradisional dan kurang inovatif. Di sekolah, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, secara lisan dan tertulis, dan untuk menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesusastraan Indonesia.

Pembelajaran bahasa Indonesia berfungsi pula sebagai sarana untuk membantu siswa mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat dengan menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif. Menurut Schleppegrell (2004:3), sekolah perlu meningkatkan kesadaran siswa mengenai kekuatan pilihan kata dalam penafsiran berbagai makna dan beragam konteks sosial.

Apa yang dikemukakan Schleppergrell tersebut pun relevan dengan tujuan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia. Strategi guru dalam mengajarkan bahasa Indonesia bukan hanya sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa, melainkan juga untuk meningkatkan apresiasi siswa terhadap seni dan budaya (dalam hal ini adalah karya sastra). Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jenis-dan-contoh-jaringan-hewan/