GAYA BAHASA RETORIS

GAYA BAHASA RETORIS

Apofasis atau Preterisio

Apofasis atau disebut juga Preterisio merupakan sebuah gaya dimana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal. Berpura-pura membiarkan sesuatu berlalu, tetapi sebenarnya ia menekankan hal itu. Berpura-pura melindungi atau menyebunyikan sesuatu, tetapi sebenarnya memamerkannya.

Contoh:

Jika saya tidak menyadari reputasimu dalam kejujuran, maka sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa anda pasti membiarkan anda menipu diri sendiri.

Saya tidak mau mengungkapkan dalam farum ini bahwa Saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara.

  1. Apostrof

Apostrof adalah semacam gaya yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir. Cara ini biasanya dipergunakan oleh orator klasik. Dalam pidato yang disampaikan kepada suatu masa, sang orator secara tiba-tiba mengarahkan pembicaraannya langsung kepada sesuatu yang tidak hadir: Kepada mereka yang sudah meninggal, atau kepada barang atau obyek hayalan atau sesuatu yang abstrak, sehingga tampaknya ia tidak berbicara kepada para hadirin.

Contoh:

Hay kamu dewa-dewa yang berada disurga, datanglah dan bebaskanlah kami dri belenggu penindasan ini.

Hay kamu semua yang telah menumpahkan darahmu untuk tanah air tercinta ini berilah agar kami dapat mengenyam keadilan dan kemerdekaan seperti yang pernah kamu perjuangkan.

  1. Asindeton

Asindeton adalah suatu gaya yang berupa acuan, yang bersifat padat dan mampat dimana beberapa kata, frasa, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung.

Bentuk-bentuk itu biasanya dipisahkan saja dengan koma, seperti ucapan terkenal dari Julius Caesar: Veny, vidi, vici, “Saya datang, Saya lihat, Saya menang”.

Perhatikan pula contoh berikut:

Materi pengalaman diaduk-aduk, modus eksistensi dari cogito ergo sum ini dicoba, medium bahasa di eksploitir, imaji-imaji, metode, prosedur dijungkir balik, masih itu-itu juga.

Dan kesesakan, kepedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.

  1. Polisindeton

Polisideton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari Asindeton. Beberapa kata, frasa, atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung.

Contoh:

Dan kemanakah burung-burung yang gelisah dan tidak berumah dan tak menyerah pada gelap dan dingin yang bakal merontokkan bulu-bulunya?

  1. Asonansi

Asonansi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vocal yang sama. Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang-kadang juga dalam prosa untuk memperoleh efek penekanan atau sekedar keindahan .

Misalnya:

Ini muka penuh luka siapa punya.

Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.

  1. Erotesis atau Pertanyaan Retoris

Erotesis atau Pertanyaan Retoris adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban. Gaya ini biasanya dipergunakan sebagai salah satu alat yang efektif oleh para orator. Dalam pertanyaan retoris terdapat asumsi bahwa hanya ada satu jawaban yang mungkin.

Contoh:

Terlalu banyak komisi dan perantara yang masing-masing menghendaki pula imbalan jasa. Herankah Saudara kalau harga-harga itu terllu tinggi?

Apakah saya menjadi wali kakak saya?

Rakyatkah yang harus menanggung akibat semua korupsi dan manipulasi di Negara ini?

  1. Silepsis dan Zeugma

Silepsis dan Zeugma adalah gaya dimana orang yang mempergunakan dua konstruksi kerapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama.

Dalam Silepsis, kontruksi yang dipergunakan itu secara gramatikal benar, tetapi secara simantik tidak benar.

Contoh:

Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.

Fungsi dan sifat bahasa.

https://movistarnext.com/