Efisiensi BUMN dalam operasional mereka

Efisiensi BUMN dalam operasional mereka

Efisiensi BUMN dalam operasional mereka

Efisiensi BUMN dalam operasional mereka

pembersihan jalur distribusi import BBM dari mafia. Kita semua setuju bahwa merekalah yang mengambil lebih besar dari yang mereka butuhkan. Ini semua terjadi karena pemerintah tidak dapat berbuat apa-apa. Kalaupun pemerintah mengetahuinya pasti “tutup mata” dan “buka dompet” pada saat yang sama. Yang menjadi mafia tentu saja bukan birokrasi namun rekan sejawat, keluarga-kerabat, sanak saudara, dan anggota keluaraga para birokrat. Pemerintah harus menjamin bisa membersihkan mereka dalam waktu singkat. Bukankah mereka “orang-orang dalam”, yang nama, nomor telepon hingga no rekeningnyapun juga tahu sama tahu. Akting pemerintah harus lebih meyakinkan. Kalau perlu anak menteri yang jadi direktur salah satu TV swasta ditangkap dan dimasukkan dalam “penjara”. Meski nggak ada kaitannya dengan BBM tapi ini adalah strategi “melempar ular, mengusir monyet”. Insya allah, monyet-monyet yang jadi mafia BBM itu akan lari tunggang langgang. Mereka akan kembali pada maqomnya semula. Mereka akan tersadar bahwa monyet cuma butuh pisang bukannya jadi mafia BBM.

efisiensi BUMN dalam operasional mereka. Karena mereka adalah ujung tombak dalam memacu pendapatan negara bersama petugas pajak. Semakin tidak effisiensi berarti semakin kehilangan potensi pendapatan. Jangan pernah ada statemen bahwa BUMN mengalami kerugian sebab di saat yang sama staff, pegawai, karyawan, bahkan direkturnya tidak mengesankan sedang bekerja di perusahaan yang merugi. Bila kita kehilangan sesuatu yang bisa kita dapatkan secara independen maka tidak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkannya selain kebodohan.

Ala kulli haal, sudah saatnya pemerintah membuat kebijakan “feasible” bukan kebijakan termudah demi memperhatikan kelangsungan hidup masyarakat dalam jangka panjang-jangka pendek. Kenaikan BBM ini bukan yang pertama, bukan pula yang terkahir bila setiap pemerintahan mengambil langkah taktis disbanding strategis. Kenaikan BBM 30% tahun ini murni langkah taktis? Langkah strategisnya masih menunggu dorongan masyarakat, gerakan social, aksi massa yang lebih besar untuk membuka mata-telinga-hati pemerintah akan kesulitan hidup rakyatnya sendiri.