Biografi Benazir Bhutto

Biografi Benazir Bhutto

Wanita kelahiran Karachi, Pakistan, 21 Juni 1953 ini adalah wanita kesatu yang memimpin suatu negara Muslim di masa pasca kolonial. Benazir yang karismatis terpilih sebagai Perdana Menteri Pakistan pada tahun 1988, tetapi 20 bulan kemudian, kekuasaannya dijatuhkan oleh presiden negara tersebut yang didukung militer, Ghulam Ishaq Khan, yang secara kontroversial memakai Amandemen ke-8 untuk mengajak bubar parlemen dan memaksa diselenggarakannya pemilihan umum. Benazir terpilih berpulang kepada tahun 1993, tetapi tiga tahun kemudian dibebastugaskan di tengah sekian banyak skandal korupsi oleh presiden yang berkuasa masa-masa itu, Farooq Leghari, yang pun menggunakan dominasi pertimbangan eksklusif yang diserahkan oleh Amandemen ke-8.

Benazir ialah anak sulung dari mantan Perdana Menteri Pakistan, Zulfikar Ali Bhutto (yang digantung oleh pemerintah militer Pakistan di bawah suasana luar biasa) dan Begum Nusrat Bhutto, seorang suku Kurdi Iran. Kakek dari pihak ayahnya ialah Sir Shah Nawaz Bhutto, seorang Sindhi dan tokoh urgen dalam gerakan kebebasan Pakistan.

Setelah dipecat oleh presiden Pakistan saat tersebut dengan dakwaan korupsi, partai Benazir kalah dalam pemilihan umum yang diadakan di bulan Oktober. Ia menjadi pemimpin oposisi sedangkan Nawaz Sharif menjadi perdana menteri sekitar tiga tahun berikutnya. Ketika pemilihan umum Oktober 1993 pulang diadakan, yang dimenangkan oleh koalisi PPP, yang membalikkan Bhutto ke dalam jabatannya sampai 1996, saat pemerintahannya sekali lagi diajak bubar atas dakwaan korupsi.

Benazir semenjak tahun 1999 bermukim dalam pembuangan di Dubai, Uni Emirat Arab dan di sana ia merawat anak dan ibunya yang menderita penyakit Alzheimer. Ia pun berkeliling dunia untuk menyerahkan kuliah dan tetap mengawal hubungannya dengan semua pendukung Partai Rakyat Pakistan.

Benazir dan ketiga orang anaknya (Bilawal, Bakhtawar, dan Asifa) dipersatukan kembali bareng suami serta ayah mereka pada bulan Desember 2004 sesudah lebih dari lima tahun terpisah. Benazir sudah bersumpah guna kembali ke Pakistan dan mencalonkan diri pulang sebagai Perdana Menteri dalam pemilihan umum yang dijadwalkan pada November 2007 mendatang. Tanggal 18 Oktober 2007, ia pulang ke Pakistan guna mempersiapkan diri mengahadapi pemilu. Dalam perjalanan mengarah ke sebuah pertemuan, dua buah bom meledak di sekitar rombongan yang membawanya. Benazir selamat, tetapi sedikitnya 126 orang tewas dalam peristiwa tersebut. Sumber : www.infobiografi.com