BIN: Tak Ada Intervensi di Pemilihan Ketua Kwarnas Pramuka

BIN: Tak Ada Intervensi di Pemilihan Ketua Kwarnas Pramuka

BIN Tak Ada Intervensi di Pemilihan Ketua Kwarnas Pramuka

BIN Tak Ada Intervensi di Pemilihan Ketua Kwarnas Pramuka

Badan Intelijen Negara (BIN) membantah kabar yang beredar mengenai adany

a intervensi saat pemilihan Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka, di Kendari, Jumat (28/9) lalu. BIN menegaskan, terpilihnya Budi Waseso menjadi ketua Kwarnas, melalui proses pemungutan suara yang demokratis, tanpa ada tekanan dari pihak manapun, termasuk dari BIN.

Demikian bantahan yang disampaikan Juru Bicara BIN Wawan Purwanto dalam keterangan tertulisnya, Selasa (2/10). Dalam pemilihan tersebut, dari total 35 suara yang diperebutkan, Budi Waseso memperoleh 19 suara, disusul Adhyaksa Dault dengan 14 suara, dan Jana Anggadireja yang memperoleh 2 suara.

“Adanya tudingan bahwa intelijen mengintervensi pemilihan ketua Kwarnas Gerakan

Pramuka yang berujung pada keterpilihan Budi Waseso adalah tidak benar atau hoax,” demikian penegasan Wawan.

Dia menegaskan, pemilihan berlangsung secara langsung, umum, bebas dan rahasia, serta jujur dan adil. Tidak ada pihak yang lain apa yang dipilih para pemilik hak suara di bilik suara saat pencoblosan berlangsung.

“Juga tidak ada intervensi intelijen terhadap ketua-ketua Kwartir Daerah (Kwarda)

. Jalannya pemilihan sangat fair, terbuka, dan semua pihak dapat menyampaikan pendapat,” jelasnya.

Dia menambahkan, tidak ada kepentingan tertentu di balik pemilihan tersebut. “Siapapun yang terpilih (menjadi ketua Kwarnas) harus mampu mengemban amanat mendidik kader pandu Indonesia ke depan,” tambahnya.

Menyangkut regenerasi kepemimpinan di Kwarnas Pramuka, lanjutnya, itu bukan hal yang baru. “Dari waktu ke waktu kepemimpinan silih berganti. Tiap orang ada masanya, dan tiap masa ada orangnya. Semua saling mengisi dan saling berkontribusi satu sama lain,” ujarnya.

Wawan meminta semua pihak menghormati siapa pun yang terpilih menjadi ketua Kwarnas Gerakan Pramuka yang baru. “Hal ini agar menjadi pembelajaran demokrasi yang baik bagi adik-adik pandu Indonesia. Tidak perlu mencari kambing hitam dalam sebuah proses pemilihan,” pintanya.

 

Sumber :

https://vidmate.co.id/